
Purbaya Yudhi Sadewa dicopot dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 14 September 2026. Posisinya kini digantikan oleh Suahasil Nazara yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.
Netizen kepo bertanya ke anak Purbaya mengapa bapaknya dicopot?
Anak Purbaya menjawab karena bapaknya memangkas anggaran MBG, dari 330 T menjadi 290 T dan kemudian dipangkas lagi jadi 240 T.
Diluar soal MBG versi anaknya Purbaya, puncak ‘masalah’ Purbaya adalah perseteruannya dengan Danantara ‘rebutan’ deviden BUMN Rp 120 Triliun.
1. Rebutan Dividen Rp120 Triliun
- Klaim Purbaya: Purbaya menyatakan bahwa target setoran Rp120 triliun ke Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) merupakan perintah langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, angka ini muncul setelah CEO Danantara, Rosan Roeslani, melaporkan capaian keuntungan lembaga tersebut kepada Presiden. Dana ini sangat dibutuhkan pemerintah sebagai penambah buffer (bantalan) fiskal APBN.
- Keberatan Danantara: Pihak Danantara dilaporkan keberatan dan memprotes penarikan dana tersebut secara langsung. Berdasarkan regulasi (UU BUMN), penarikan laba harus memperhitungkan pencadangan risiko investasi, akumulasi modal, serta kebutuhan ekspansi Danantara ke depan. Mematok angka Rp120 triliun secara sepihak dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan keuangan jangka panjang lembaga superholding tersebut.
2. Kritik Terbuka Purbaya Terhadap Kompetensi Danantara
Ketegangan sebetulnya sudah tereskalasi sejak akhir tahun lalu ketika Purbaya melayangkan kritik keras secara terbuka:
- Purbaya mempertanyakan keahlian manajemen Danantara karena menempatkan dana dalam jumlah besar pada obligasi pemerintah.
- Ia menilai dana kelolaan Danantara (termasuk dividen BUMN) seharusnya diinjeksi langsung ke proyek strategis seperti Kereta Cepat agar tidak membebani APBN. Tapi akhirnya utang Kereta Cepat dibebankan ke Menkeu.