
Secara personal kayaknya Purbaya Yudhi Sadewa ini agak ember mulutnya. Begitu tekanan mental naik, semua yang biasanya dikunci rapat di ring 1 ikut meluap. Dari situ tercium aroma pertarungan finansial yang selama ini disembunyikan. Dan publik akhirnya tahu.
Bandingkan dengan Sri Mulyani: berkepribadian calm, cold, dan gak sembarang umbar omongan. SMI itu master of control. Purbaya kebalikannya—terbuka sampai-sampai orang bisa menebak apa yang terjadi di balik tirai.
Kini dia diganti. Penggantinya, Suahasil Nazara, masih kabur dari sisi personalitas publik. Guru Besar ekonomi UI yang masuk pemerintahan lewat jalur profesional, menempati posisi-posisi pendukung strategis, lalu lima tahun terakhir menjadi “orangnya” Sri Mulyani. Jejaknya panjang: di era SBY pernah duduk di Komite Ekonomi Nasional (2013-2014), cikal bakal DEN yang kini diketuai LBP. Profilnya rapi, akademis, dan—yang paling penting—tidak bocor!
Tapi jangan salah baca. Purbaya nampaknya gak akan berkecil hati. Justru sebaliknya: dia malah seneng diberhentikan. Setelah setahun jadi bendahara negara dengan gaya cowboy yang membuat investor geleng-geleng kepala, kini dia bebas. Bisa jadi malam ini sudah ke klub, merayakan kebebasan dari beban yang sempat membuat berat badannya anjlok. Bagi dia, pemecatan ini lebih terasa pelepasan belenggu ketimbang hukuman.
Dari sisi etika bernegara, cara Presiden Prabowo mencopotnya terasa kasar. Disaat Purbaya sedang rapat di DPD, tiba-tiba ditelepon Mensesneg, lalu diganti begitu saja tanpa upacara yang pantas. Keputusan Presiden keluar, pelantikan pengganti digelar sore itu juga—seolah jabatan menteri keuangan bisa dilipat seperti kemeja bekas. Tidak ada penghormatan publik, tidak ada penjelasan memadai. Hanya “diganti”. Maka yang tampak bukan sekadar reshuffle. Tapi power show, pertunjukan kekuasaan yang menempatkan loyalitas dan kenyamanan di atas tata krama kenegaraan.
Dua sisi bertemu di satu titik: Purbaya yang terlalu jujur (atau terlalu ember mulutnya) digeser oleh seseorang yang dianggap lebih “aman”, obedient, sementara cara pemecatannya sendiri mempertontonkan betapa etika bernegara bisa dikalahkan oleh perhitungan politik sesaat.
(✍️Malika Dwi Ana)