Bandara Riyadh Dihantam Rudal, Perang Saudi dan Houthi Ancam Jalur Minyak dan Pelayaran Dunia

 Bandara Riyadh Dihantam Rudal, Perang Saudi dan Houthi Ancam Jalur Minyak dan Pelayaran Dunia

Perang antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman memasuki babak yang semakin berbahaya setelah serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya pada Sabtu (10/10/2026). 

Serangan tersebut menjadi salah satu insiden paling mematikan di Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade dan memperlihatkan bahwa konflik yang berpusat di Yaman kini dapat mengancam langsung pusat pemerintahan, penerbangan sipil, dan aktivitas ekonomi kerajaan itu. 

Dampaknya melampaui jatuhnya korban jiwa. Data yang dikutip surat kabar The National menunjukkan hampir 260 penerbangan dari dan menuju Riyadh dibatalkan, sedangkan 219 lainnya mengalami penundaan. 

Sejumlah maskapai internasional turut menghentikan atau membatasi penerbangan ke ibu kota Saudi. 

Situasi ini memperlihatkan bahwa serangan rudal dan drone tidak harus menghancurkan seluruh infrastruktur untuk menimbulkan tekanan besar: ancaman terhadap keselamatan penerbangan saja sudah dapat mengganggu mobilitas manusia, perjalanan bisnis, dan kepercayaan terhadap keamanan negara. 

Eskalasi tersebut berlangsung ketika Arab Saudi meningkatkan operasi militernya untuk membantu--pemerintah Yaman yang diakui Riyadh dan negara Arab--merebut wilayah dari Houthi. 

Serangan terhadap bandara menjadi bagian dari rangkaian aksi lintas perbatasan yang juga menyasar fasilitas strategis. 

Pemerintah Saudi dan koalisinya menyatakan akan membalas serangan terhadap warga sipil dan fasilitas sipil, sementara Houthi menempatkan aksinya dalam konteks perang yang lebih luas dan tekanan militer Saudi terhadap wilayah yang mereka kuasai. 

Dengan demikian, kedua pihak menghadapi risiko terjebak dalam siklus serangan dan pembalasan yang semakin sulit dikendalikan. 

Dari perang Yaman menuju persaingan regional

Untuk memahami eskalasi terbaru, konflik ini perlu ditarik kembali ke akar persoalannya. Houthi merebut ibu kota Yaman, Sanaa, pada 2014, sebelum Arab Saudi memimpin intervensi militer pada 2015 untuk mendukung pemerintahan yang diakui secara internasional. 

Perang tersebut berlangsung bertahun-tahun tanpa kemenangan menentukan. Gencatan senjata yang dimulai pada 2022 sempat menurunkan intensitas pertempuran, tetapi tidak menghasilkan penyelesaian politik yang menyeluruh.

Kembali pecahnya pertempuran pada 2026 memperlihatkan bahwa konflik Yaman tetap rentan menjadi medan persaingan kekuatan regional. 

Situasi semakin rumit karena perang Yaman kini berkaitan dengan konfrontasi yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran. 

Houthi merupakan gerakan bersenjata yang memiliki hubungan dengan Teheran, meskipun kebijakan dan keputusan operasionalnya tidak selalu dapat dipandang sebagai perpanjangan langsung dari kehendak Iran.