Malaysia tidak bisa bertahan tanpa produk-produk Indonesia?

 

Perseteruan antara warganet Indonesia dan Malaysia memanas setelah Timnas Indonesia berhasil menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Saling serang antar kedua belah pihak terus memanas hingga kini.

Ada warganet Indonesia yang ngeledek ‘Malaysia tidak bisa bertahan tanpa produk-produk Indonesia’ diantaranya mi instan dll.

Ini tanggapan dari pihak Malaysia di fb:

Oleh: Ahmad Faezal

Ada narasi keliru yang mengklaim bahwa Malaysia tidak bisa bertahan tanpa produk-produk Indonesia. Sebelumnya, mereka menyebarkan kebohongan soal beras, dan setelah terbongkar, mereka mengalihkan fokus ke mi instan seperti Indomie.

Namun, apa kata faktanya?
Indomie tertinggal jauh dalam hal pangsa pasar mi instan di Malaysia.

  1. Maggi (51,6%) — dimiliki oleh perusahaan Swiss, Nestlé; produknya telah “dilokalisasi” dari segi bumbu dan cita rasa berkat kehadiran merek yang sudah lebih dari 100 tahun. Nestlé Malaysia pada dasarnya merupakan entitas lokal.
  2. Mamee (14%) — merek milik Mamee-Double Decker M, yang didirikan oleh Datuk Pang Chin Hin pada tahun 1971. Perusahaan lokal.
  3. Mi Sedaap (11,7%) — produk milik PT Wings Surya dari Surabaya, Indonesia.
  4. Cintan (6,9%) — merek mi instan pelopor (orisinal) di Malaysia. Didirikan oleh Yeo Hiap Seng pada tahun 1969.
  5. Indomie (3,7%) — merek Indonesia milik Indofood.

Statistik bersumber dari Euromonitor.

Persentase ini merujuk pada pangsa pasar—yang menunjukkan sejauh mana perusahaan atau merek tertentu mendominasi pasar Malaysia.

Perlu juga diperhatikan fakta bahwa terdapat 1,6 juta warga negara Indonesia di Malaysia. Angka ini belum termasuk 1,1 juta migran Indonesia tanpa dokumen resmi, serta wisatawan atau digital nomad asal Indonesia yang tinggal di Malaysia dalam jangka waktu lama.

Singkatnya: Malaysia bisa lebih dari sekadar bertahan tanpa Indonesia; kami justru berkembang pesat.