:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Penipuan-beras-fortifikasi-OK.jpg)
Sobat Berita - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman membongkar praktik manipulasi dan peredaran beras fortifikasi palsu oleh korporasi besar.
Beras fortifikasi adalah beras biasa yang telah diperkaya atau ditambahkan zat gizi mikro (vitamin dan mineral) esensial untuk meningkatkan kualitas nutrisinya.
Amran membeberkan bahwa para pelaku mampu meraup keuntungan ratusan miliar rupiah per hari hanya dengan menaikkan harga tipis dari beras yang menipu konsumen tersebut.
Ia mengungkapkan besarnya perputaran uang haram yang dinikmati kelompok mafia pangan di luar rantai pengawasan pemerintah.
Permainan harga tersebut dilakukan secara masif hingga menguras kantong masyarakat luas.
"Dia satu kali itu ambil uang, aku buka saja, Rp1.000 dinaikkan dia dapat Rp200 miliar satu hari," ungkap Amran dalam rapat koordinasi lintas kementerian di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (12/10/2026).
Amran memaparkan hasil pengujian laboratorium resmi, termasuk dari Institut Pertanian Bogor (IPB), terhadap produk beras fortifikasi yang beredar di pasaran.
Meski diklaim bervitamin dan ditujukan untuk penanganan gizi buruk, uji laboratorium membuktikan produk tersebut nihil kandungan vitamin.
"Apa itu fortifikasi? Dikasih vitamin B12. Vitamin B dikasih, ternyata tidak ada vitaminnya. Kami periksa di lab, dan apa tujuannya ini? Ini sebenarnya enggak tahu ini, pasal penyusup mungkin ini. Ini fortifikasi untuk orang miskin, stunting, tapi dijual Rp50.000, kan enggak pernah ketemu," kata Amran.
Tak hanya memalsukan kandungan gizi, beras fortifikasi tersebut juga dijual dengan harga selangit yang jauh melampaui harga wajarnya.
Amran menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan tindak pidana murni, bukan sekadar kenaikan harga pasar.
"Pak Mendagri kita lihat, ini fortifikasi dia jual Rp57.000, harganya harusnya Rp13.000. Dia bohongi ini konsumen semua," tegas Amran.
"Dan ini penipuan, bukan mark up harga, penipuan. 90 persen menipu," imbuhnya.
Mentan juga merinci hitungan keuntungan yang didapat para spekulan dalam setiap distribusi muatan armada truk beras. Ia menyebut para pelaku di balik praktik ini adalah konglomerat berstatus residivis yang sebelumnya terlibat kasus beras oplosan.
Sumber : https://www.tribunnews.com